A&T Corporation

Friday, December 01, 2006

success-ismyright

Thursday, September 14, 2006

PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI SOLUSI DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA (JUVENILE DELINQUENCY);
PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAMI

PENDAHULUAN
”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah, yang dikhawatirkan nasibnya kelak. Hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah dan mengatakan kata-kata yang benar”
(QS an Nisa’/ 4: 9)

”Setelah dua tahun lebih memalak (memeras) sembilan orang bekas kawannya, AW (15), siswa kelas III SMP swasta di Yogyakarta, Kamis (2/2), akhirnya meringkuk di tahanan Kepolisian Sektor Danurejan, Yogyakarta. Remaja itu dilaporkan temannya, Rezaa (15), siswa kelas III SMPN 15 Yigyakarta, karena telah memalak dan melukai kepalanya, senin (30/1), seusai pulang sekolah di depan SMPN 15” (KOMPAS, 3 Februari, 2006).

Berita yang dikeluarkan oleh koran harian nasional KOMPAS di atas hanya merupakan satu dari sekian banyak kasus kriminalitas yang dilakukan oleh remaja akhir-akhir ini. Kita memang sering harus mengerutkan dahi dan mengurut dada sebagai tanda keheranan dan keprihatinan karena semakin banyaknya tayangan atau berita mengenai tindak kriminalitas yang dilakukan oleh remaja. Mulai dari kasus pencurian, pemalakan, perkosaan, perkelahian atau tawuran, seks bebas, bahkan sampai pada pembunuhan. Sungguh merupakan suatu ”peningkatan prestasi” yang cukup mengejutkan dan memprihatinkan.
Masalah kejahatan yang dilakukan remaja yang oleh para ahli disebut dengan istilah kenakalan remaja (juvenile delinquency) sebenarnya mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu, peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak - in loco parentis - yang memutuskan perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wajar. Sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun kemudian dianggap sebagai salah satu bentuk kejahatan (Sudarsono, 1995). Dewasa ini, penyimpangan ini kemudian cukup menyita perhatian karena semakin menjerat semakin banyak remaja di dunia.
Di Indonesia sendiri, rasanya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kenakalan remaja juga mengalami peningkatan dari hari ke hari, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sebagai salah satu bukti, data dari Pemerintah kota Surakarta yang bekerjasama dengan United Nations Children's Fund (Unicef) sebagai hasil dari Analisa Situasi Ibu dan Anak (ASIA) Kota Surakarta menunjukkan bahwa remaja di kota Surakarta yang terlibat kenakalan pada tahun 2001 saja mencapai angka 6.664 orang dengan prosentase terbesar bolos sekolah atau keluyuran di tempat wisata, bioskop, halte dan sebagainya sejumlah 3.485 orang atau 52,3 persen (Syamsiah & Wiyono, www.suaramerdeka.com, 26 November, 2001).
Hidayat (www.pikiran-rakyat.com, 19 Desember 2004) membeberkan data secara umum mengenai prosentase remaja yang terlibat dalam kenakalan remaja pada tahun 2004. Menurut hidayat, remaja Indonesia yang mencakup seperempat dari seluruh jumlah penduduk Indonesia memang pada perkembangannya sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial dan budaya yang tidak positif yang merupakan faktor risiko bagi remaja untuk terjebak ke dalam perilaku destruktif. Setidaknya diperkirakan dari total keseluruhan remaja di Indonesia; 73,1% remaja laki-laki telah merokok dan untuk remaja putri angkanya sebesar 12,5%, 42,2% pada remaja laki-laki telah minum minuman keras dan 3% pada perempuan, 22,4% remaja laki-laki menjadi korban narkoba dan 2,3% pada remaja perempuan, juga 9,4% remaja laki-laki telah melakukan seks pra nikah dan 3,2% pada perempuan.
Penulis kemudian tergelitik untuk bertanya, apa yang terjadi dengan pendidikan yang diterapkan selama ini sehingga belum mampu membentengi remaja dari penyimpangan. Apa yang kurang dari pendidikan yang diterapkan di sekolah sehingga masih terjadi banyak tawuran? Apa yang kurang dari pendidikan yang diterapkan di rumah atau keluarga sehingga masih ada kasus pemerkosaan oleh remaja karena seringnya menonton video porno?.
Berkaitan dengan masalah pendidikan saat ini, Sudarsono (1995) memandang bahwa pendidikan di Indonesia, terutama dalam keluarga, hanya menekankan pada transfer of material dan belum pada transfer of value. Dengan kata lain, masih terpaku pada tahap ”mengajar” dan belum sampai pada tahap ”mendidik”. Dalam hal ini, remaja masih hanya diarahkan untuk memenuhi tuntutan supaya berprestasi, menguasai pelajaran, memiliki nilai tinggi, atau mendapatkan pekerjaan yang layak. Sedangkan penanaman nilai sebagai aspek yang sangat penting kemudian menjadi terlupakan. Remaja menjadi kurang dididik dengan benar untuk mematuhi norma dan aturan agama, saling menyayangi antar sesama, berprilaku sopan dan beradab, menghormati orangtua dan guru, bertanggungjawab dan menjaga hak orang lain. Akhirnya, kenakalan remaja sebagai salah satu bentuk akibat dari kelalaian tersebutpun tidak dapat dihindarkan.
Melihat semakin meningkatnya kenakalan remaja yang terjadi, muncul satu pertanyaan besar, bagaimana kemudian solusi paling efektif dalam menanggulangi penyimpangan tersebut?
Islam sebagai agama universal telah memberikan metode pendidikan yang sempurna kepada manusia guna menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi. Ar Raghib al Ashfahani (Abdurahman al Nahlawi, 1995) mengemukakan bahwa pendidikan Islam dengan konsep tarbiyah bertujuan menumbuhkan prilaku demi prilaku secara bertahap menuju kesempurnaan. Dalam kaitannya dengan dinamika kehidupan remaja, pendidikan Islam pada akhirnya ditujukan untuk membimbing dan memelihara remaja untuk bertindak dan berprilaku sesuai dengan tuntunan agama, sehingga mampu terhindar dari kenakalan remaja. Pendidikan Islam yang penulis maksudkan di sini bukan berarti satu satunya solusi paling tepat, namun lebih sebagai pelengkap atau penyempurna (complement) dari pendidikan yang diterapkan saat ini.

PEMBAHASAN
A. Remaja, Kenakalan Remaja dan Faktor-faktor Penyebabnya
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini.
Masa remaja disebut sebagai masa pancaroba atau masa peralihan, dimana remaja sedang berusaha keras menemukan jatidirinya. Proses pencarian jatidiri ini sering dilakukan dengan metode coba-coba (trial and error), sehingga tidak jarang terjadi banyak kesalahan atau penyimpangan. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja atau juvenile delinquency (Haditono, 2001).
Secara umum, para ahli mendefinisikan kenakalan remaja (juvenile delinquency) sebagai perbuatan dan aktivitas remaja yang berlawanan dengan norma-norma masyarakat, undang-undang negara dan agama atau tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran status, hingga tindak kriminal, seperti mencuri, merampok, memalak atau memeras, seks bebas, bahkan membunuh (Santrock, 1996; Ghafani, www.daawah.com, 7 Januari 2006; Walgito, 1982; Chaplin, 2002).
Pada awalnya kenakalan remaja atau juvenile delinquency, secara etimologis, berarti kejahatan anak, akan tetapi pengertian ini menimbulkan konotasi yang cenderung negatif, bahkan negatif sama sekali. Atas pertimbangan yang lebih moderat dan mengingat kepentingan subjek, maka beberapa ahli kemudian memberanikan diri untuk mengartikan juvenile delinquency sebagai kenakalan anak atau remaja (Sudarsono, 1990)
Di Indonesia, kenakalan remaja yang terjadi semakin meningkat dan beragam bentuknya. Salah satu bentuk kenakalan remaja yang sangat populer karena sering terjadi adalah perkelahian antar pelajar atau tawuran (street fighting). Tambunan (www.e-psikologi.com, 2 September 2000) memaparkan bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran sangat sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.
Satu lagi kasus kenakalan remaja yang sangat mengkhawatirkan, yaitu semakin tingginya angka penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Menurut laporan yang dicetak oleh Kompas Cyber Media pada tanggal 5 Februari 2001, dari dua juta pecandu narkoba, 90 persen adalah generasi muda, termasuk 25.000 mahasiswa. Lebih jauh, Nurdin (Harrison, www.suaramerdeka.com, 7 Juni 2002), Kepala Kanwil Depdiknas DKI membeberkan bahwa sebanyak 1.015 siswa di 166 SMU di Yogyakarta selama tahun 1999/2000 terlibat tindak penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan narkoba. Sementara di Jakarta, para siswa penyalahgunaan narkoba tersebar di Jakarta Utara sebanyak 248 orang dari 26 SMU, JakartaPusat 109 orang di 12 SMU, Jakarta Barat 167 orang di 32 SMU, Jakarta Timur 305 orang di 43 SMU dan Jakarta Selatan 186 orang di 40 SMU. Sebuah ”prestasi” yang sangat memprihatinkan. Woolfolk (1995), berdasarkan beberapa penelitian, menegaskan bahwa rating tertinggi kasus kenakalan remaja diduduki oleh seks bebas dan penyalahgunaan narkoba.
Berbicara masalah kenakalan remaja (juvenile delinquency), tentu tidak bisa terlepas dari pembahasan akan faktor-faktor penyebab yang melatarbelakangi munculnya kenakalan remaja tersebut. Berdasarkan temuan-temuan penelitian dan kajian mendalam para ahli pada kenakalan remaja, ditemukan beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya kenakalan remaja, diantaranya:
Pertama, faktor internal remaja. Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erikson (Santrock, 1996) masa remaja adalah tahap dimana krisis identitas versus difusi identitas harus di atasi. Sehingga tidaklah mengherankan bila menghubungankan kenakalan remaja dengan kemampuan untuk mengatasi krisis ini secara positif. Sedangkan Tambunan (www.e-psikologi.com, 2 September 2000) mengungkapkan bahwa remaja yang terlibat kenakalan remaja biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang.
Sementara Ghafani (www.daawah.com, 7 Januari 2006) berpandangan bahwa kenakalan remaja muncul lebih karena tabiat remaja yang cenderung memberontak. Sehubungan dengan hal ini, Bastaman (1997) memaparkan tiga tipe nafsu yang mempengaruhi tabiat manusia, yaitu:
a. Nafsu Ammarah: Nafsu yang sentiasa mendorong manusia melakukan kejahatan. Bagi mereka yang berada diperingkat ini tidak merasakan perbedaan antara yang baik dan jahat. (QS 12:53).
b. Nafsu Lawwamah: Nafsu yang menunjukkan kelemahan diri, dimana seseorang akan mampu mengevaluasi kehidupan masa lalu dan memulai kehidupan yang positif (QS 75:2).
c. Nafsu Muthmainnah: Nafsu yang mencapai kedamaian dan kebahagiaan. Nafsu ini berusaha terus untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam dirinya (QS 89:27).
Muhammad al-Jiasi (Dalam Gafani, www.daawah.com, 7 Januari 2006) menambahkan satu lagi tipe nafsu manusia, yaitu Nafsu Mulhamah yang berarti nafsu yang sudah menerima kebenaran dan keinsyafan serta mencintai kebaikan dan membenci kejahatan.
Kedua, faktor keadaan keluarga. Haditono (2001) melalui penelitiannya pada tahun 1973 menemukan bahwa keadaan keluarga yang tidak kondusif sehingga menyebabkan ketidaknyamanan pada remaja merupakan satu dari tiga faktor penyebab paling kuat dari munculnya kenakalan remaja. Sudarsono (1995) menulis bahwa keadaan keluarga yang menyebabkan kenakalan remaja adalah berupa keluarga tidak normal atau broken home. Dalam hal ini, sebuah keluarga dikatakan broken home karena salah satu orangtua meninggal dunia, perceraian orangtua, kesibukan terlalu tinggi sehingga jarang memiliki waktu dengan anak. Kondisi broken home ini kemudian menghadirkan ketidaknyamanan dan menumbuhkan jiwa pemberontak pada anak atau remaja. Hal ini kemudian menjadikan remaja lebih memilih lingkungan di luar rumah. Sayangnya, tidak jarang lingkungan yang dipilih tidak tepat, sehingga malah menjerumuskan remaja. Wallerstein dan Kelly (Dagun, 1990) meneliti 60 keluarga di California yang mengalami perceraian. Hasilnya menunjukkan bahwa remaja yang orangtua mengalami perceraian akan menderita trauma mendalam, lalu remaja mencari ketenangan melalui kelompoknya (peers). Sayangnya, proses mencari ketenangan ini cenderung mengarah pada aktifitas negatif.
Sedangkan Tambunan (www.e-psikologi.com, 2 September 2000) dan Mahfuzh (2001) mengungkapkan bahwa keadaan keluarga yang menjadi faktor penyebab kenakalan remaja terjadi dalam bentuk pola asuh. Keluarga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) yang kemudian itu berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya (overprotective), ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya. Penyerahan secara total inilah yang menyebabkan remaja berada dibawah kendali penuh kemauan kelompok, meskipun kemauan kelompok tersebut mengarah pada kenakalan remaja. Zuhaili (2002) menyempurnakan bahwa keadaan keluarga sebagai faktor penyebab kenakalan remaja mencakup: kurangnya penekanan pada pendidikan, kesesatan orangtua, perpecahan keluarga, kontradiksi prilaku orangtua dengan apa yang diajarkan, pola asuh yang salah, dan juga karena faktor ekonomi keluarga yang lemah.
Ketiga, faktor sekolah. Zuhaili (2002) menyebutkan bahwa kesalahan sekolah sehingga menyebabkan penyimpangan pada remaja adalah karena kurang tepatnya kurikulum yang diajarkan (kurang Islami), kurang kontrol dan perhatian guru pada permasalahan remaja, dan juga karena kurangnya dukungan lingkungan dan aktifitas di sekolah pada terbentuknya prilaku positif remaja. Tambunan (www.e-psikologi.com, 2 September 2000) memandang bahwa sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu, tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Di samping itu, tidak adanya media konseling siswa juga menjadi faktor penyebab munculnya kenakalan remaja. Ketiadaan media konseling siswa menunjukkan ketidakacuhan sekolah terhadap permasalahan yang dihadapi anak didik, sehingga anak tidak dapat mengkonsultasikan masalah yang mereka hadapi. Salah satu contoh masalah yang paling populer dialami remaja adalah prestasi yang buruk di sekolah. Kok (Haditono, 2001) melalui penelitiannya menemukan bahwa apabila seorang anak mengalami gangguan belajar sehingga berakibat pada prestasi yang buruk, atau bahkan sampai menyebakan sang anak harus drop out dari sekolah, maka sang anak akan cenderung menjadi delinkuen pada masa-masa sesudahnya.
Keempat, faktor lingkungan. Lingkungan di sini mencakup mulai dari teman sebaya (peers), masyarakat di sekitar remaja, sampai pada media (media massa dan elektronik). Teori behaviorisme memandang bahwa tingkah laku manusia, termasuk kenakalan remaja, terbentuk hasil daripada proses pembelajaran, terutama dari lingkungan (Atkinson, dkk, tt). Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya kenakalan remaja. Breakwell (1969) menulis bahwa kenakalan remaja merupakan hasil dari proses pembelajaran sosial yang berlangsung dalam dua hal yaitu (1) pembelajaran instrumental, dimana kenakalan remaja muncul karena adanya imbalan atau dukungan (reinforcement) dari lingkungan, misalnya dari teman sebaya dan (2) pembelajaran observasional, dimana kenakalan remaja muncul melalui usaha mengamati orang lain, misalnya dari prilaku kekerasan dalam keluarga atau dari tayangan-tayangan kriminalitas di televisi. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya kenakalan remaja.
Kelima, adanya diskriminasi sosial. Conger (Haditono, 2001), yang telah merangkum banyak penelitian, menyatakan bahwa salah satu sebab munculnya prilaku delinkuensi adalah adanya diskriminasi sosial. Anak-anak yang memiliki “kekurangan” secara sosial sehingga dipandang sebelah mata bahkan cenderung dilecehkan, akan bangkit menjadi ganas, brutal, bahkan sampai melakukan tindak anarkis. Selignman (dalam Myers, 1999), berdasarkan pada teori Belajar Sosial (Social Learning Theory), mengenalkan istilah learned helplessness. Dalam hal ini, individu yang mengalami kondisi tertekan (being oppressed) dan mengalami diskriminasi sosial dari lingkungannya terus menerus dapat saja berubah menjadi “beringas”.

B. Pendidikan Islam Sebagai Solusi?
Makna pendidikan dalam Islam adalah tarbiyah. Dalam kamus bahasa arab, ada tiga akar kata untuk tarbiyah (Abdurahman al nahlawi, 1995):
Pertama, raba-yarbu yang artinya ”bertambah” dan ”berkembang”. Hal ini senada dengan firman Allah:
” Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah di sisi Allah..” (QS ar Rum: 39)

Kedua, rabiya-yarba yang dibandingkan dengan khafiya-yakhfa yang berarti ”tumbuh” dan ”berkembang”. Ketiga, rabba-yarubbu yang dibandingkan dengan madda-yamuddu yang berarti ”memperbaiki”, ”mengurus kepentingan”, ”mengatur”, ”menjaga, ”memperhatikan”.
Imam al Baidhawi (Zuhaili, 2002) dalam tafsirnya Anwar at Tansil wa Asrar at Ta’wil, mengatakan bahwa pada dasarnya ar rab itu bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan. Senada dengan pengertian di atas, Crow and Crow (Fattah, 2001) mendefinisikan pendidikan sebagai:
”modern educational theory and practice are not only aimed at preparation for future living but also are operative in determining the pattern of present, day by day attitude and behavior.

Makna kalimat di atas adalah bahwa pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk persiapan hidup yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan sekarang yang dialami individu dalam perkembangannya menuju tingkat kedewasaan. Sehingga, untuk menciptakan remaja yang tangguh dalam menghadapi pengaruh-pengaruh negatif dari luar, terutama “wabah” juvenile delinquency, maka hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah membentuk ketangguhan tersebut mulai dari sekarang, mendidik dan membimbing remaja secara intensif sampai akhirnya mencapai taraf yang dinginkan.
Bastaman (1997) menjelaskan bahwa pendidikan Islam pada remaja setidaknya harus mencakup empat dimensi penting, yaitu (1) dimensi ragawi atau biologi (pendidikan jasmani), (2) dimensi kejiwaaan (pendidikan pribadi), (3) dimensi sosial (pendidikan kemasyarakatan), (4) dimensi spiritual (pendidikan keruhanian). Adapun penerapan pendidikan Islam pada remaja sangat tergantung pada tiga lingkungan utama yang sangat berperan dalam mendidik dan membina remaja, yaitu lingkungan keluarga sebagai lingkungan primer, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
1. Lingkungan keluarga
Pendidikan Islam dalam keluarga dapat berupa transformasi pemahaman akan Islam dan suri tauladan yang baik. setidaknya, pendidikan dalam keluarga mencakup beberapa hal: Pertama, menanamkan akidah yang sehat dan akhlaq yang mulia. Bersumber dari Rafi’ R.A, Ia berkata:
”Aku melihat Rosulullah S.A.W menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali R.A ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah R.A” (H.R Tarmidzi)

Hadits di atas memperlihatkan begitu pentingnya akidah, dimana ketika seorang anak baru lahir hendaknya yang pertama kali didengar adalah kalimat yang menyatakan kebesaran Allah dan kesaksian Islam.
Mahfuzh (2001) menjelaskan bahwa penanaman akidah pada anak mencakup, seperti larangan mempersekutukan Allah (QS 31: 13), mengerjakan solat, berdakwah pada kebenaran, dan merendah diri (QS 31: 17-19). Dengan telah tertanamnya akidah secara kuat pada remaja, maka remaja akan terbentuk menjadi remaja yang taat pada agama, terutama dalam beribadah kepada Allah. .
Setelah penanaman aqidah, pembentukan akhlak mulia menjadi hal berikutnya yang sangat penting. Rosulullah menegaskan pentingnya pembentukan akhlak mulia melalui haditsnya:
”Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (H.R Malik)

Shihab (2001) memaparkan bahwa pendidikan akhlak pada remaja hendaknya mencakup beberapa sasaran, yaitu (1) akhlak terhadap Allah berupa pengakuan dan kesadaran bahwa tiada tuhan selain Allah, (2) Akhlak terhadap sesama manusia yang mencakup etika pergaulan, (3) Akhlak terhadap lingkungan berupa pemeliharaan dan penghargaan (tidak merusak) pada segala sesuatu di sekitar manusia, baik binaang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda tak bernyawa. Dengan menanamkan sasaran-sasaran di atas, seorang remaja diharapkan akan mencapai kesempurnaan akhlak.
Pada akhirnya, penanaman akidah dan pembentukan akhlak mulia bertujuan membentuk religiusitas pada remaja. Hawari (2004) memaparkan bahwa beberapa penelitian menemukan bahwa anak dari kelurga yang religius akan lebih kecil kemungkinan untuk terlibat dalam kenakalan remaja, seperti menyalahgunakan narkoba, dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak religius.
Kedua, mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis. Apabila keluarga bersatu di atas landasan kasih sayang dan ketentraman psikologis yang interaktif, maka anak akan merasakan kenyamanan dan kebahagiaan, percaya diri, kasih sayang, jauh dari kekacauan, dan penyakit bathin yang dapat melemahkan keperibadian. Keharmonisan yang tercipta dalam keluarga akan menjadikan remaja belajar bagaimana menjalani hidup secara tepat dalam lingkar cinta dan kasih sayang. Pentingnya untuk mewujudkan ketentraman dalam keluarga tersirat dalam firman Allah S.W.T:
” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang..(QS ar Rum: 21)

Ketiga, memenuhi kebutuhan cinta kasih anak. Keluarga, terutama orangtua, bertanggungjawab untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, termasuk remaja, karena cinta dan kasih sayang merupakan landasan terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan psikologis dan sosial anak. Abdurrahman an Nahlawi (1995) menyebutkan bahwa jika seorang anak mengalami ketidakseimbangan rasa cinta, kehidupan bermasyarakatnya akan dicemari oleh penyimpangan-penyimpangan, termasuk dalam bentuk kenakalan remaja. Al Bukhari meriwayatkan sebuah hadits tentang kecintaan Rosulullah kepada anak melalui perkataan Abu Qatadah al Anshari:
”Rosulullah S.A.W keluar dari rumah menuju kami, sedangkan Umamah binti Abul Ash berada di pundaknya, kemudian Nabi shalat. Maka ketika rukuk beliau meletakkan Umamah dan ketika berdiri beliau menggendong Umamah (H.R Bukhari)

Hadits di atas menggambarkan betapa pentingnya mengasihi anak sebagaimana ditunjukkan oleh Rosulullah. Goleman (2001) menunjukkan tiga kesalahan orangtua dalam menghadapi anak mereka yang kemudian menjadikan anak terutama remaja menjauhi keluarga, yaitu sama sekali mengabaikan perasaan anak, terlalu membebaskan yang menunjukkan tidak adanya perhatian, menghina atau tidak menunjukkan penghargaan pada perasaan anak. Tannen (2002) menambahkan bahwa ketidakadilan dalam keluarga terhadap anak laki-laki dan perempuan termasuk kesalahan yang sering terjadi dalam keluarga. Belajar dari beberapa kesalahan di atas, maka dalam menghadapi remaja, orangtua semestinya mampu: (1) dapat memaafkan dan berlaku adil terhadap anak, (2) tidak terlalu menampakkan kekecewaan dan dapat menerima anak apa adanya, (3) memberi pertolongan dan membimbing dengan sabar, lemah lembut dan penuh kasih sayang, dan (4) meminta pendapat remaja tentang bagaimana mencari solusi masalah yang sedang dihadapi.
Keempat, menjaga fitrah anak agar tidak melakukan penyimpangan. Dalam konsepsi Islam, keluarga adalah penanggungjawab utama terpeliharanya fitrah anak. Dengan demikian, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan anak lebih disebabkan karena ketidakwaspadaan orangtua atau pendidik terhadap perkembangan anak. Hal ini semakin dipertegas oleh firman Allah:
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nerakayang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at Tahrim: 6)

Dalam ayat di atas terkandung perintah untuk memelihara keluarga dari api neraka, yaitu dengan menaati Allah ta’ala. Jabir al Jazairi (tt) menegaskan bahwa menaati Allah berart menuntut pengetahuan tentang apa-apa yang diwajibkan Allah untuk ditaati, dan ini tidak datang begitu saja tanpa dipelajari. artinya, orangtua wajib untuk mengajari anaknya, mendidiknya, serta membimbingnya kepada kebaikan.
Abdurrahman an Nahlawi (1995) menjelaskan bahwa memelihara fitrah anak atau remaja dari penyimpangan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu: (1) membiasakan anak untuk mengingat kebesaran dan nikmat Allah dan semangat mencari dalil dalam mengesakan Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya agar tetap berada dalam kesucian dan kesiapan untuk mengagungkan Allah dan (2) membiasakan anak untuk mewaspadai penyimpangan-penyimpangan yang kerap membiaskan dampak negatif pada anak, misalnya dari tayangan televisi. Dalam menerapkan dua cara ini, orangtua dapat menggunakan metode dialog, cerita, atau pemberian contoh yang baik. Dalam hubungannya dengan metode menghadapi remaja, Brooks (2004) menyatakan bahwa remaja akan rela menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk beradu argumen dengan orangtua atas apa yang mereka lakukan. Adu argumen ini harus dihadapi dengan kepala dingin, bukan emosional, sehingga remaja dapat bersikap lunak dan merasa nyaman untuk berdiskusi guna menemukan solusi (problem solving) dengan orangtua.
Hawari (2004) menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan di rumah turut ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu (1) kehidupan beragama yang berkesinambungan dalam keluarga, (2) mempunyai waktu bersama dalam keluarga, (3) mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga, (4) saling menghargai, (5) mampu menjaga keutuhan keluarga dan (6) mempunyai kemampuan menyelesaikan krisis secara positif.
2. Lingkungan sekolah
Qordhawi (1999) mengatakan bahwa sekolah sebagai lingkungan pendidikan formal merupakan media yang sangat efektif dalam membentuk mental remaja yang sehat yang memiliki ketangguhan dalam pertahanan diri dari pengaruh-pengaruh negatif. Adapun efektifitas pendidikan akan dapat dicapai dengan menerapkan fungsi-fungsi pendidikan Islam yang berlandaskan pada alquran dan hadits di sekolah. Sebagaimana Allah telah menegaskan fungsi alquran bagi pendidikan dalam surat An nahl ayat 44:
“ dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya” (QS 16:44)

Rosulullah juga telah mempertegas fungsi alquran dan Al sunnah sebagai penuntun manusia dalam menjalani kehidupan secara haq dalam sabdanya:
“ sungguh aku telah meninggalkan kepadamu sekalian dua warisan berharga yang apabila kamu berpegang kepada keduanya, maka kamu tidak akan pernah tersesat”

Fungsi fundamental Islam melalui sekolah setidaknya meliputi enam fungsi: Pertama, fungsi penyederhanaan dan penyimpulan. Abdurrahman an Nahlawi (1995) menyebutkan bahwa fungsi ini berdasarkan keyakinan bahwa realitas yang terjadi berupa kebobrokan peradaban, dekadensi moral, dan kemajuan zaman yang secara tidak langsung telah menularkan banyak dampak negati terutama bagi perkembangan generasi muda seharusnya bisa diwaspadai. Ketika anak-anak bangsa bersinggungan dengan segala realita menghawatirkan tersebut, maka sekolah dituntut untuk memberikan pemahaman sederhana sehingga mereka mampu menghadapi suasana dunia yang baru tanpa perasaan takut, silau, atau ketakjuban berlebihan. Dalam praktiknya, penyederhanaan pemahaman tersebut membutuhkan penerapan ilmu pengetahuan tentang berbagai hal yang kemudian disarikan dalam bentuk hukum, kaidah-kaidah moral-agama, atau prinsip-prinsip yang mudah dipahami oleh remaja. Terkait dengan hal diatas, Rosulullah juga berpesan untuk melalui sabdanya:
“kami disuruh berdialog dengan manusia menurut tingkat intelektualnya” (HR Bukhori).

Dengan menyederhanakan penyampaian, diharapkan para remaja dapat memami secara mendalam segala konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, sehingga dapat bersikap selektif pada setiap pengaruh dari luar (outside influences).
Kedua, fungsi penyucian dan pembersihan. Simon (Miller, 2002) menyebutkan bahwa masa remaja merupakan masa yang tepat untuk penerapan penjernihan nilai-nilai, karena remaja berada pada masa transisi, sehingga dengan diterapkannya penjernihan nilai-nilai, maka seolah-olah remaja memulai pemahaman baru yang tentu saja benar dan objektif.
Penjernihan atau penyucian menjadi sangat penting mengingat bahwa Ilmu pengetahuan dan konsep akidah berpindah dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga sangatlah wajar jika sejalan dengan perkembangan umat manusia, sedikit demi sedikit, pengetahuan dan konsep akidah itu bergeser dari yang semestinya. Sejalan dengan hal ini, Allah memberikan tuntunan kepada manusia dalam rangka menyelamatkan diri penyimpangan, sebagaimana firmannya dalam surat al Isra` ayat 36):
“ dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan atasnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS 17 :36)

Ketiga, memperluas wawasan dan pengalaman anak didik melalui transfer tradisi. Sekolah harus mampu mengupayakan perolehan pengalaman melalui pengalaman generasi-generasi terdahulu atau pengalaman bangsa-bangsa yang telah maju. Dengan menunjukkan bahwa kesuksesan Rosulullah dan para sahabat dalam menyebarkan agama Islam didapat melalui kerja keras dan perjuangan maksimal, bahwa bangsa maju seperti jepang dengan kecanggihan teknologi dan kekuatan ekonominya atau kerajaan Solahuddin al Ayyubi dengan keperkasaannya dapat mencapai kemajuan karena keuletan dan kerja keras semua komponen bangsa dan kerajaan, terutama generasi mudanya, maka diharapkan generasi muda dapat terketuk hatinya untuk mengarahkan prilaku pada prilaku-prilaku positif, bukan prilaku-prilaku tidak sehat yang dapat merugikan diri dan lingkungannya.
Zuhaili (2002) menegaskan bahwa menanamkan tradisi-tradisi positif generasi-generasi terdahulu menjadi sangat penting, karena Al Quran sendiri telah memberikan banyak gambaran kisah tentang bagaimana tradisi terdahulu sangat berpengaruh bagi generasi sesudahnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al Baqarah ayat 170:
“ dan apabila dikatakan kepada mereka: “ikutilah apa telah diturunkan Allah,” mereka menjawab:”(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui satu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS 2:170).

Keempat, fungsi mewujudkan keterikatan, integrasi, homogenitas, dan keharmonisan antar anak didik. Hal ini menjadi sangat penting, karena apabila proses tersebut diikuti dan direalisasikan dengan baik, maka akan berpengaruh positif terhadap kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Silberman (2002) memperkenalkan model peer lesson, sebagai model belajar mengajar dengan penekanan pada teman sebaya. Model ini mengembangkan peer teaching, dimana setiap peserta didik di kelas bertanggungjawab untuk mengajar peserta didik lainnya sebagi anggota kelas, misalnya dengan presentasi bergilir. Sehingga dengan demikian, anak didik, hari demi hari, akan merasakan ikatan emosional yang semakin menguat diantara mereka karena interaksi mereka satu sama lain lebih intensif.
Prinsip keterikatan sendiri sejalan dengan landasan-landasan pendidikan Islam sebagaimana firman Allah dalam surat al Anfal ayat 63:
“ walaupun kamu membelanjakan semua kekayaanmu di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tapi Allah telah memeprsatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha perkasa lagi Maha bijaksana” (QS 8 :63)

Kelima, fungsi penataan dan validasi sarana pendidikan. Akhir-akhir ini, begitu banyak kita saksikan berita-beita dunia dari para public figure yang berlebihan, expose yang melewati batas kewajaran baik melalui media elektronik maupun media masa, yang kesemuanya itu tentu dapat merusak akhlaq generasi muda. Hal tersebut sangatlah meresahkan karena bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang diberikan di sekolah. Oleh karena itulah, sekolah berfungsi untuk menata kembali sarana-sarana tersebut, misalnya dengan menyelenggarakan seminar, workshop, atau penyuluhan guna mengarahkan generasi muda kepada prilaku yang positif. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 110:
“kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS 2:110)

Keenam, penyempurna tugas keluarga dalam pendidikan. Sebagai lingkungan primer, keluarga merupakan titik awal pembinaan akhlaq generasi muda. Sedangkan sekolah adalah tempat lanjutan pembinaan akhlak remaja. Sekolah, melalui peran guru, hendaknya dapat menggantikan peran ayah. Artinya, layaknya seorang ayah yang membimbing anaknya, seorang guru hendaknya dapat menghadapi murid dengan cara-cara yang dapat meringankan beban emosi mereka secara bertahap, penuh pengertian, kasih sayang dan kesabaran.
3. Lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat secara luas dapat dipahami lingkungan selain keluarga dan sekolah yang mencakup seperti teman sebaya, masyarakat disekitar rumah (terutama tokoh-tokoh agama), media (baik media massa dan elektronik) atau juga aparat penegak hukum. Dalam praktik pendidikan Islam pada remaja, tanggungjawab masyarakat terhadap pendidikan remaja hendaknya mencakup dua hal utama, yaitu: Pertama, masyarakat mampu meningkatkan semangat dakwah pada kebaikan dan perang pada kemunkaran. Tanggungjawab ini termaktub dalam firman Allah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” ( QS al Imron: 104)

Dalam praktiknya, bila di lingkungan masyarakat remaja berprilaku menyimpang, maka hendaknya angota masyarakat tidak berpangku tangan. Sikap permisif masyarakat dewasa ini harus dirubah dengan tidak memberikan toleransi kepada macam-macam prilaku menyimpang yang dapat mengganggu lingkungan.
Yang terpenting, penyembuhan kesesatan remaja melalui dakwah pada kebajikan dan perang pada kemunkaran baru bisa dilakukan bila terlebih dahulu memperbaiki masyarakat di lingkungannya. Mendidik media informasi dan instrumennya yang beraneka ragam, serta sumber-sumber lain yang mempengaruhi opini publik agar melaksanakan perbaikan, pendidikan dan bimbingan yang ditegakkan oleh syari’at Islam, ketentuan-ketentuan al quran, dinaungi akidah yang lurus, dipagari oleh akhlak yang mulia, serta moral yang terpuji. Hal ini dilakukan untuk melindungi remaja dari menyerahkan diri kembali kepada penyimpangan. Jalaluddin (2002) turut menegaskan bahwa pembentukan nilai-nilai kesopanan atau nilai-nilai yang berkaitan dengan aspek-aspek spiritual akan lebih efektif bila seseorang itu berada dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Ini kemudian diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Masri Singrimbun terhadap kasus kumpul kebo di Mojolama. Ia menemukan 13 kasus kumpul kebo ini ada hubungannya dengan sikap toleran masyarakat terhadap hidup bersama tanpa nikah. Penulis kemudian yakin bahwa hal semacam ini mungkin tidak akan terjadi di lingkungan masyarakat yang yang menentang dengan keras pola hidup seperti itu.
Kedua, masyarakat mampu mengarahkan remaja untuk memilih teman yang baik dan tepat berdasarkan ketaqwaan kepada Allah. Sesuai fitrahnya, remaja akan cenderung menyukai orang lain dan berbaur dalam suasana mereka sendiri. Karenanya, lingkungan masyarakat harus mampu mengenalkan strategi yang mencegah mereka untuk akrab dengan teman-teman sebaya yan tidak tepat, yang berpotensi melakukan penyimpangan-penyimpangan. Sehubungan dengan hal ini, Abi Sa’id al Khudri pernah mengatakan bahwa Rosulullah bersabda:
”Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mu’min, dan janganlah kamu memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa” (H.R Ibnu Hibban)

Hadits di atas menyiratkan betapa pentingnya untuk berhati-hati dalam memilih lingkungan bergaul. Begitu pentingnya mengarahkan remaja dalam memilih teman, karena dari sekian banyak elemen yang sangat berpengaruh pada prilaku remaja, teman sebaya (peers) memainkan peranan paling dominan. Hurlock (1980) mengungkapkan bahwa dalam mempengaruhi prilaku remaja, ada dua cara peers mempengaruhi temannya. Pertama, konsep diri (self concept) remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-teman tentang dirinya. Kedua, remaja berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diinginkan oleh kelompok. Adanya prilaku delinkuen sangat mungkin disebabkan karena pengaruh yang “ditularkan” oleh teman sebayanya. Mengingat masa remaja adalah masa transisi, sehingga dia masih belum menemukan jati dirinya, hanya berpegang pada “ketaatan” pada teman sebaya tanpa mampu bersikap selektif. Sehingga, masyarakat hendaknya dapat menjadi lapis kedua (second line), setelah keluarga dalam mengarahkan dan mengontrol remaja agar memilih teman bergaul yang tepat.
Setelah menjelaskan peran masing-masing lingkungan dalam pendidikan Islam pada remaja, satu hal yang kemudian harus kita pahami bahwa tanggung jawab terhadap kenakalan remaja tidak hanya dibebankan pada keluarga saja, sekolah saja, atau lingkungan masyarakat saja. Namun perlu adanya sistem pendidikan yang terintegrasi (integrated educational system) antara lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat dalam menerapkan pendidikan Islam pada remaja. Para ahli pendidikan Islam sependapat bahwa kesuksesan pendidikan pada remaja akan berhasil bila ada hubungan yang terikat kuat dan berkesinambungan antar semua lingkungan yang berperan (Zuhaili, 2002; Abdurahman an Nahlawi, 1995). Penulis mengilustrasikan sistem pendidikan yang terintegrasi (integrated educational system) tersebut dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Kenakalan Remaja

Sekolah

Rumah

Masyarakat
Berdasarkan bagan di atas, dapat ditegaskan kembali bahwa keberhasilan dalam membina remaja akan mencapai keberhasilan bila ada hubungan timbal balik (mutual relationship) yang saling menguatkan antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hubungan timbal balik tersebut berarti bahwa pendidikan yang diterapkan di setiap lingkungan harus saling mendukung satu sama lain guna membentuk remaja menjadi remaja yang tangguh dari segala macam bentuk penyimpangan dan terpaan.
Akhirnya, pendidikan Islam pada remaja dalam rangka menanggulangi kenakalan remaja tidak akan berjalan lancar bila kita berada posisi menekan (offensive). Metode yang dikedepankan dalam mendidik remaja hendaknya adalah metode kondisioning atau pembiasaan, sehingga akhirnya remaja akan menemukan manfaat dari kebiasaan tersebut. Pendidikan Isla pada remaja harus berjalan dengan tanpa paksaan, adanya motivasi diri (self motivation) dalam remaja untuk mengikuti pendidikan dan harus berkesinambungan.

PENUTUP
Dunia remaja adalah dunia yang penuh dengan sejuta keunikan, mengingat masa remaja merupakan masa pancaroba atau peralihan menuju dewasa. Ahli Psikologi menyebutkan bahwa masa remaja ditandai oleh storm and stress, dimana jiwa remaja yang masih sangat labil dan cenderung emosional sangat berpotensi untuk terbawa pengaruh-pengaruh negatif luar dan terlempar pada penyimpangan. Salah satu bentuk penyimpangan remaja yang akhir-akhir ini sangat populer adalah kenakalan remaja (juvenile delinquency).
Satu hal yang terpenting adalah bagaimana menerapkan secara efektif solusi penanggulangan pada kenakalan remaja. Dalam hal ini, Islam menawarkan pendidikan Islam sebagai penyempurna pendidikan saat ini dalam menanggulangi kenakalan remaja. Pendidikan Islam yang mengintegrasikan peran tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat dalam membina remaja. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi celah bagi remaja untuk terbawa pada arus kenakalan remaja. Akhirnya sejalan dengan firman Allah, ” hendaklah mereka khawatir bila kelak meninggalkan keturunan yang lemah yang dikhawatirkan nasibnya kelak. Hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah dan mengatakan kata-kata yang benar” (QS 4:9), melalui usaha dan doa kita semua tentu berharap semoga remaja Indonesia natinya akan menjadi remaja yang kuat dan tangguh dari segala macam bentuk pengaruh negatif, amin. Wallhu a’lam bish showab